Pertanyaan Untuk Drs. Matrisoni

INOHONG – JURNAL BOGOR

DUNIA PENDIDIKAN HARUS DICERDASKAN

KEMAJUAN teknologi akhir-akhir ini harus segera diimbangi dengan sumberdaya manusia yang mumpuni. Dunia pendidikan yang terkait erat dengan teknologi, tak serta merta hanyut dalam arus kemajuan zaman. Filterisasi dari sejumlah praktisi pendidikan harus mampu menjadi motor bagi kemajuan dunia pendidikan. Demikian penuturannya kepada wartawan Jurnal Bogor Dony P. Herwanto di Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (LPP) Purnawarman Jalan Jenderal Sudirman no. 35 Bogor.

1. Menurut bapak konsep pendidikan yang mencerdaskan itu seperti apa?

Mengubah perilaku, dari tak tahu menjadi tahu. Itulah konsep dasar pendidikan yang mencerdaskan. Mcndorong siswa untuk memahami bahwa belajar merupakan suatu kebutuhan, bukannya menjalankan kewajiban. Agar belajarnya nyaman dan tak ada paksaan, cara belajar anak jangan disamaratakan. Implementasi dari pendidikan yang mencerdaskan adaiah terwujudnya kurikulum yang sesuai dengan budaya Indonesia.

2. Upaya apa yang harus dilakukan oleh guru atau sekolah untuk mencetak generasi muda yang punya pola pikir bahwa belajar adalah kebutuhan?

Kalau bisa, semua guru jangan hanya bersikap seperti guru, yang hanya memberikan pelajaran, setelah itu sudah, tak ada tanggung-jawabnya lagi.  Sebisa mungkin, guru harus bertindak seperti tutor. Seorang guru dituntut untuk memahami karakter siswa, yang mana dengan mengetahui karakter siswa, fungsinya sebagai tutor atau teman akan mudah. Jangan paksa siswa untuk menguasai semua mata pelajaran, tapi lihat kemampuan siswa dari berbagai sisi.

3. Seberapa jauh peran guru untuk mencetak generasi yang tangguh?

Dalam hal ini, peran guru sangat besar. Kalau ingin mencetak generasi yang tangguh, pola pembelajaran lama harus segera dirubah, seperti pola bela­jar klasikal dengan jumlah siswa yang banyak. Selain tak efektif, fungsi guru terlihat minim. Pasalnya, guru yang berperan sebagai orang yang menentukan arah belajar hanya mampu diserap oleh sebagian kecil siswa. Fungsi kontrolpun kurang. Untuk mengantisipasinya, jumlah siswa dalam satu kelas sebisa mungkin tak lebih dari 25 orang. Kelas akan lebih efektif jika jumlah siswanya sedikit. Diskusi dan control guru terhadap kegiatan belajar mengajar terlihat hidup.

4. Apa yang menjadi gagasan awal bapak menawarkan konsep multimedia learning di tengah- tengah konsep pen­didikan yang kurang terarah ini?

Bertolak dari proses pembelajaran yang mengalami krisis motivasi, saya tergerak untuk menciptakan proses belajar mengajar yang menyenangkan dan interaktif. Saya berfikiran bahwa metode pembelajaran yang selama ini diterapkan di sejumlah sekolah kurang variatif, serta sebagian besar pengajar kurang monguasai teknologi. Dari situlah, saya ingin membagi ilmu yang saya dapat selama mengikuti program pelati­han HAM di Strasbourgh University, Perancis. Sebenarnya, sebelum berangkat ke Perancis pun saya sudah punya gagasan untuk menciptakan pen­didikan multimedia.

5. Apa kelebihan dari konsep multimedia learning?

Pertama, beban guru jadi ringan, karena bahan ajar telah disiapkan. Yang ke dua, bahan ajarnya lebih variatif. Jadi, guru tak susah- susah mencari bahan pembelajaran untuk disampaikan di depan kelas, karena bahannya telah ada di internet. Guru tinggal mengakses data- data yang diperlukan

6. Sejauhmana kesiapan guru menghadapi konsep yang bapak tawarkan?

Animo guru sangat tinggi, terutama guru- guru muda yang ingin menambah wawasannya tentang teknologi. Di era teknologi yang makin cepat ini, jangan sampai orang Indonesia jadi penonton di rumah sendiri. Tapi kendala yang sering saya hadapi adalah, banyak guru yang menyerah dan pasrah dengan keadaan yang sudah ada. Tapi saya dan beberapa teman yang peduli terhadap dunia pen­didikan khususnya di Bogor ini, tak menyerah untuk memajukan pendidikan.

7. Apa yang harus dipersiapkan guru dan mungkin siswa dalam penerapan multimedia learning yang bapak tawarkan ?

Yang pertama dan paling utama adalah sumberdaya manusia dan fasilitas yang ada. Percuma dengan fasilitas lengkap, tapi sumberdaya manusianya kurang mendukung. Sebaliknya, sumberdaya manusianya mumpuni, tapi tak didukung oleh kelengkapan fasilitas. Untuk itu, saya selalu mensosialisaikan konsep ini kesejumlah sekolah, terutama guru untuk men­gubah paradigma yang ada bahwa kemajuan teknologi itu harus diimbangi dengan kemajuan kemampuan untuk menguasainya.

Di luar negeri, semua proses belajar mengajar sudah menggunakan internet. Dengan metode yang diterapkan di tempat yang pernah saya kunjungi, ingin rasanya saya mengembangkan metode itu di Bogor. itulah mengapa saya dan beberapa rekan pengajar membcntuk suatu komunitas guru yang fungsinya untuk membagi ilmu dan informasi pada teman- teman sesama pengajar.

8. Barangkali, apa yang membedakan pendidikan di luar negeri dan di Indonesia khususnya di Bogor?

Motivasi belajar,  fasilitas, dan budaya belajar. Di luar negeri, perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan bisa dibilang bagus dan sangat memperhatikan dunia pendidikan. Di Bogor, pemerintah tampaknya sulit dan berfikiran bahwa pendidikan adalah lumbung untuk mencari keuntungan. Selain itu, budaya baca harus ditingkatkan. Bisa dibandingkan dengan di Indonesia, orang Indonesia, ketika naik pesawat lebih memilih tidur daripada membaca buku. Tapi kalau orang luar negeri, lebih baik membaca buku, karena bisa menambah wawasannya. Itulah yang membedakan pendidikan di Indonesia dan luar negeri. Tapi pada dasarnya kemampuan orang Indonesia tidaklah kalah dengan orang luar.

9. Harapan bapak bagi pendidikan di Bogor?

Saya ingin, pemerintah lebih mencurahkan perhatiannya ke dunia pen­didikan. Selain itu, kualitas dan kemam­puan guru menguasai teknologi semakin bagus. Target saya, tahun 2009, 50 persen dari jumlah total guru di Bogor sudah melek teknologi. Jadi tak kalah dengan siswanya.

Ketika guru mampu menguasai teknologi, maka separuhnya, guru telah menguasai dunia. Saya juga berharap, komunitas guru yang telah terbentuk ini mendapat perhatian yang serius dari pihak pimpinan sekolah dan pemerintah. Sudah saatnya merubah paradigma bahwa yang harus dicerdaskan adalah murid saja, guru dan semua elemen yang berhubungan dengan dunia pendidikan harus dicerdaskan, karena itu menjadi indikator keberhasilan dunia pendidikan

000_0140BIO  DATA

Nama: Drs. Matrisoni

Tempat /Tgl Lahir: Bukittinggi, 10 Maret 1968

Agama:Islam

Alamat: Jl. Kemang Dalam No. 1 Komplek Arco Sawangan – Depok

Telp. : 081808317991

Email/Web: mathesony@gmail.com / http://www.mathsony.com

Pekerjaan : Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Purnawarman

Istri: Desi Idiawati, S.Pd (Guru SMPN 14 Depok)

Anak:

  • Arfan Deniansyah (14 tahun)
  • Nabila Farasaty (11 tahun)
  • Alfianur Haqiqi (5 tahun )

  • Riwayat Pendidikan
  • 1.  SDN 30 Bukittinggi2.  SMPN Pulo Merak Cilegon Banten

    3. SMAN 1 Serang Banten

    4.  IKIP Bandung Jurusan Pendidikan Matematika

    5.  Alumni Program Pelatihan HAM Angkatan 2 Strasbourgh University Perancis

    Pengalaman Organisasi:

    1.  Wakil Ketua Senat Perguruan Tinggi IKIP Bandung.

    2.  Sekretaris HMI Kota Bandung.

    3.  Sekretaris Himpunan Pengusaha Muda Bandung.

    Pengalaman Kerja

    Direktur Lembaga Bimbel: SCC, Ganesha Operation, Teknos, Rajawali, GSS, ESS Bandung, Jakarta, Bogor. 1994-1996 Wakil Kepala SMA Plus YPHB Bogor. 1996-2001 Ketua Umum Yayasan Islam Darussalam Bantar Jati. 2000-2001 Manager Operational Bimbingan Belajar Sony Sugema College Cabang Bogor. 2001-2002

    Direktur Lembaga Bimbel, Pelatihan Komputer, Bahasa Inggris, Desain Gratis, Percetakan Exspres Bogor. 2001-2005

    Kepala SMA Taruna Andigha Bogor. 2001-2005

    Area Manager Bimbel SSC Bogor. 2005-2006

    Kepala cabang SSC Cibinong. 2006-2007

    Kepala cabang SSC Pondok Labu-Cinere. 2007

    Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Purnawarman. 2007-sekarang

  • One thought on “Pertanyaan Untuk Drs. Matrisoni

    1. Selamat siang Pak Matrisoni.
      Salam kenal Pak. Saya yenti, penulis skaligus editor di sebuah penerbitan.
      Ada yang ingin saya tanyakan, semoga Bapak berkenan menjawab.
      Apa perbedaan mendasar dalam pengajaran matematika untuk program IPA dan program IPS?
      Sebagaimana kita ketahui, untuk kurikulum 2013 terbaru, matematika wajib untuk program IPA dan program IPS mengacu pada kurikulum (KD dan KI) yang sama. Hal-hal atau poin-poin apa saja yg harus kita perhatikan dalam mengajarkan materi yang sama, baik itu ke siswa program IPA atau ke siswa program IPS?
      Apakah soal-soal dan materi harus dibedakan untuk kedua program itu?

      Terima kasih banyak sebelumnya ya Pak.
      Salam, Yenti

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s