PERSOALAN PENDIDIKAN

000_0140cropSTRATEGI PENDIDIKAN DI ERA OTONOMI DAN PERSAINGAN GLOBAL

Oleh DRS. MATRISONI

A.  Pendahuluan

Pembangunan pendidikan merupakan salah satu tonggak keberhasilan pembangunan nasional. Sampai saat ini rakyat belum puas dengan hasil pembangunan di bidang ini. Perilaku oknum elit politik, keberingasan prilaku ekonomi di masa lalu yang mengabaikan perekonomian rakyat, watak mahasiswa dan tawuran pelajar, kebocoran ujian, dan ketimpangan seleksi masuk perguruan tinggi serta watak bangsa secara menyeluruh memperlihatkan ketidakberhasilan pendidikan yang tandai oleh kemiskinan karakter dan pudarnya budi pekertj luhur, serta semakin memudarnya jati diri bangsa yang tidak jelas arahnya kemana. Keadaan ini semakin diperparah dengan adanya prilaku yang melanggar hak azasi manusia dan timbulnya gejala-gejala yang menjurus kepada konflik horizontal sehingga mengubah wajah dan kesan rakyat Indonesia yang dahulunya ramah­tamah kini menjadi bangsa yang memiliki kerendahan stabilitas emosi dan budi pekerti.

B.  Sembilan titik lemah Pendidikan di Indonesia

Refleksi penurunan karakter watak bangsa ini menunjukkan dugaan terhadap adanya kesalahan arah proses pendidikan, di antaranya:

Pertama, Keberhasilan pendidikan diukur dari keunggulan ranah kognitif dan nyaris tidak mengukur ranah afektif serta psikomotor sehingga pembinaan watak dan budi pekerti terabaikan.

Kedua, Evaluasi pendidikan terutama pengajaran di tingkat SD, SMP. dan SMA mungkin juga di Perguruan Tinggi cenderung memakai instrumen yang mengenyampingkan pola berfikir convergen sehingga siswa tidak dipacu berfikir kreatif, imaginative, dan inovatif. Sebaliknya siswa menjadi obyek didik dan bukan pelaku aktif.

Ketiga, Proses pendidikan berubah menjadi proses pengajaran sehingga materi pelajaran menjadi materi yang terasa tidak relevan dengan kenyataan, salah satunya adalah terjadinya kesenjangan dunia sekolah dan dunia kerja.

Keempat, Kemampuan menguasai pengetahuan tidak disertai dengan pembinaan kegemaran belajar. Akibatnya adalah lembaga pendidikan menjadi lembaga elit yang jauh dan asing bagi kehidupan dan keperluan hidup sehari-hari.

Kelima, Titel dan gelar menjadi target pendidikan yang tidak disertai dengan tanggung jawab ilmiah yang mumpuni, sehingga terjadi ‘pengejaran titel’ yang tidak sehat. Kultur lembaga pendidikan menjadi kultur serimonial dan sangat bernuansa status.

Keenam, Materi pendidikan dan buku-buku pelajaran ditulis dengan cara dan metode yang miskin akan upaya-upaya untuk menyeimbangkan faktor praktek dan teori, faktor IPTEK dan IMTAQ, faktor lembaga pendidikan dan dunia kerja, faktor menjawab benar-salah dan menjawab dengan membuka kemungkinan jawaban yang variatif.

Ketujuh, Manajemen pendidikan yang menekankan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan kepada pemerintah dan bukan kepada seluruh ‘stake-holders’ pendidikan seperti masyarakat, orang tua, guru, dan siswa itu sendiri.

Kedelapan, Profesi guru yang terkesan menjadi profesi ilmiah saja dan kurang disertai dengan bobot profesi kemanusiaan sehingga hubungan guru dan murid terkesan sebagai hubungan produsen dan konsumen. Hal ini diperparah dengan kedudukan profesi guru yang secara finansial berada pad a profesi papan bawah.

Kesembilan, Semuanya ini diikuti dengan problem nasional yang multi dimensional yang melemahkan upaya pemerataan pendidikan yang kurang didukung oleh sarana serta prasarana yang memadai, serta lemahnya political will pemerintah yang menempatkan anggaran dan isu pendidikan sehingga masih berada pada papan bawah.

Upaya Memperbaiki Ukuran Keberhasilan Pendidikan

Perbaikan Paradigma Keberhasilan Pendidikan

Ukuran keberhasilan atau sukses pendidikan selama ini selalu ditekankan pada aspek kuantitatif (angka-angka) seperti pencapaian NEM, nilai raport, perolehan kursi Perguruan Tinggi Negeri dan sebagainya. Padahal seharusnya tolak ukur keberhasilan pendidikan tidak hanya menyangkut aspek kognitif namun juga aspek afektif dan psikomotorik. Sehingga watak atau karakter anak, keimanan kepada Tuhan, sopan santun, akhlak, budi pekerti luhur dimasukkan dalam kriteria disamping nilai akademis yang baik. Paradigma terakhir inilah yang seharusnya dijadikan acuan dalam menilai keberhasilan proses pendidikan sehingga tidak hanya terjadi transfer knowladge dalam proses pembelajaran akan tetapi juga terjadi transfer value and skill. Dengan orientasi seperti ini maka anak selain pintar juga memahami nilai-nilai yang berlaku dimasyarakat sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya serta mempunyai keterampilan hidup dalam menghadapi permasalahan-permasalahan di masyarakat.

Mengacu pada paradigma tersebut dapat dipahami bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama yang harus diemban secara berkesinambungan dan terencana dalam merubah perilaku anak ke arah yang lebih baik dan dewasa. Paradigma pendidikan tersebut, yang pada hakikatnya merupakan tujuan pembangunan pendidikan Indonesia harus dijadikan paradigma dalam membangun dunia pendidikan. Pemikiran bahwa keberhasilan pendidikan hanya dapat dilihat sebatas angka-angka (hasil) harus mulai mengalami transformasi ke arah “proses” . Hal ini sangat sejalan dengan semangat reformasi total yang selama ini begitu gencar dan marak disuarakan dengan sudah diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ).

Perbaikan Sistem Evaluasi Pendidikan

Sistem evaluasi pendidikan di tingkat SD, SMP, dan SMA, serta Perguruan Tinggi perlu dirancang agar memacu peserta didik untuk lebih kreatif, imaginative, dan inovatif. Sistem evaluasi yang selama ini kerap dipakai adalah sistem pilihan berganda yang memungkinkan peserta didik untuk melakukan upaya coba-coba. Sistem evaluasi seperti ini memang memudahkan untuk upaya pengkoreksian, namun peserta didik seakan dihambat untuk mengemukakan pendapatnya sendiri karena pilihan terbatas pada apa yang tersedia dalam lembar ujian. Berbeda halnya dengan ujian essay yang merangsang peserta didik untuk berfikir kreatif, imaginative, dan inovatif. Untuk menjembataninya maka perlu ditawarkan sistem evaluasi perpaduan yang mengakomodasi kreatifitas siswa. Disisi lain evaluasi yang sempurna adalah juga evaluasi yang tidak hanya mengukur IQ (kecerdasan otak anak) akan tetapi kecerdasan emosi (EQ), kecerdasan spiritual (SQ), kecerdasan social (SbsQ) harus menjadi dasar dalam penilaian keberhasilan pendidikan.

Revisi Mater; Pembelajaran

Perlunya revisi materi pembelajaran untuk menjawab tantangan dunia kerja sehingga terjadi link and match antara dunia pendidikan dan dunia karja. Selain itu lembaga-Iembaga pendidikan perlu dipacu untuk menjalin kerja sama dengan dunia usaha. Kerja sama ini sangat penting dalam rangka mencari titik temu antara permintaan bursa tenaga kerja dengan out put pendidikan serta dalam rangka memacu berbagai riset ilmiah dimanfaatkan oleh dunia usaha sehingga kekurangan dana untuk riset yang selama ini dikeluhkan oleh dunia pendidikan dapat disediakan oleh dunia usaha yang membutuhkan temuan-temuan yang dihasilkan oleh riset ilmiah.

Pembaharuan Sistem Proses Belajar Mengajar

Perlunya dilakukan pembaharuan sistem proses belajar mengajar untuk menumbuhkan kegemaran belajar pada siswa dengan memanfaatkan temuan­ temuan terbaru dalam pendidikan yang menggabungkan antara konsep pembelajaran serta konsep discovery dan entertainment, serta memanfaatkan ICT sebagai media belajar dengan mengoptimalkan sumber-sumber belajar lain di internet, alam sekitar, dan lain-lain.

Penetapan Aturan Yang Ketat Dalam Pemberian Gelar Akademis

Perlunya diterapkan aturan yang ketat dalam pemberian titel dan gelar akademik sehingga dihasilkan out put pendidikan yang berkualitas. Penekanan terhadap konsep pendidikan sebagai suatu proses merupakan suatu pilihan agar titel. Dan gelar akademis tidak hanya dipandang dari segi seremonial dan statusnya. . . .

Keseimbangan Antara Praktek dan Teori Dalam Pembelajaran

Perlunya dilakukan keseimbangan antara praktek dan teori dalam pembelajaran sehingga peserta didik mampu mengapresiasi ilmu yang diperolehnya dan menemukan relevansi ilmu tersebut dengan kehidupan dan keperluan hidup sehari-hari.

Pemberian Otonom; Kepada Lembaga-Lembaga Pendidikan

Pemberian otonomi kepada lembaga-Iembaga pendidikan dalam penyelenggaraan proses pendidikan dengan melibatkan secara aktif seluruh “stake holder” lembaga pendidikan sehingga terbentuk lembaga pendidikan yang mandiri.

Penghargaan Terhadap Profesi Guru

Penghargaan terhadap profesi guru dengan meningkatkan tingkat kesejahteraan guru serta peningkatan profesionalisme melalui berbagai pelatihan dan kesempatan melanjutkan pendidikan.

Pemerataan Kesempatan Belajar

Perlunya dilakukan pemerataan kesempatan belajar dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, jika pemerintah merencanakan wajib belajar sembilan atau mungkin 12 tahun akan tetapi secara rasio antara sekolah dasar dengan sekolah lanjutan pertama saja perbandingannya sudah sangat jauh, maka kita kecil sekali berharap bahwa program tersebut dapat berjalan dengan baik.

STRATEGI SEKOLAH

DALAM ERA OTONOMI DAN PERSAINGAN GLOBAL

Untuk mengatasi berbagai masalah tersebut di atas, maka upaya yang dilakukan harus tertata dengan baik yakni antara pemerintah, sekolah, keluarga serta masyarakat dalam membangun sekolah masa depan.

Untuk itu maka ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan oleh sekolah dalam era otonomi dan persaingan global tersebut, antara lain:

A. Pengembangan Sikap Siswa

Sikap siswa yang harus dikembangkan dalam menghadapi persaingan adalah sebagai berikut:

1. Flexibility ( fleksibel) guna memasuki tahun 2009 yang sarat dengan persaingan, maka sikap yang fleksibel amat diperlukan. Seorang anak harus dapat dan mampu beradaptasi dengan segala situasi, kondisi, dan orang yang dihadapinya.

2. Futuritive (berorientasi pada masa depan), segala sesuatu yang dilakukan dan diprogramkan untuk anak harus berorientasi pada kemajuan dan mengantisipasi masa depan.

3.  Openess (terbuka). Sikap yang terbuka merupakan keharusan yang tidak bisa ditawar, khususnya terbuka terhadap perubahan. Orang yang tidak mau menerima perubahan akan selalu tertinggal dan ditinggalkan.

4. Planned (mempunyai perencanaan) . Keberhasilan selalu diawali dengan sebuah perencanaan yang baik. Tanpa perencanaan, maka akan sulit bagi siswa untuk melakukan atau mengerjakan sesuatu. Untuk itu sekolah harus selalu mendorong siswa untuk senantiasa membuat perencanaan. Plan your work. Work your plan.

5. Competitive (bersaing). Agar anak termotivasi untuk berprestasi maka sekolah harus menciptakan suasana persaingan yang sehat di antara semua siswa. Ciptakan situasi dan sugesti dimana setiap anak mempunyai kesempatan yang sarna untuk mencapai suatu prestasi.

6. Tolerance to failure (toleransi terhadap kegagalan). Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Itulah yang harus selalu ditekankan pada siswa agar ia tidak kecewa dan patah semangat jika mengalami sebuah kegagalan. Dengan sikap seperti ini siswa akan termotivasi untuk selalu mencoba dan tidak terpaku pada hasil. Kedua, Toleransi terhadap ketidakpastian, era globalisasi merupakan era yang penuh dengan ketidakpastian. Anak yang senantiasa menghadapi persoalan dalam situasi yang terus berubah anak terdidik untuk senantiasa mempunyai toleransi terhadap ketidakpastian. Dengan perubahan yang begitu cepat bukan menjadikan anak menajdi cemas bahkan mengalah dengan keadaan akan tetapi menjadikan ia kreatif untuk mencari solusi atas ketidakpastian yang ia hadapi. Ketiga, toleransi terhadap ketidaksempurnaan. Setiap orang atau masa (kurun waktu) pasti mempunyai kelemahan dan kelebihan, untuk itu maka yang perlu dibangun adalah sikap toleran terhadap kekurangan dan kelebihan orang lain.

7. Diciplene (disiplin) . Sikap ini merupakan sebuah keharusan mutlak. Tanpa adanya kedisiplinan, khususnya terhadap rencana yang tetah dibuat maka akan sulit untuk mendapatkan keberhasiJan. Untuk itu seorang anak harus didorong untuk belajar disiplin.

8. Diligence (rajin, tekun). Orang bijak mengatakan rajin pangkal pandai. Tanpa adanya sikap rajin/tekun maka akan sulit bagi seorang siswa untuk mencapai keberhasilan. Sikap tekun dan rajin ini harus dupupuk di sekolah dalam menghasitkan pribadi anak yang bersungguh-sungguh dalam bekerja.

9. Taqwa. Taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan sumber kekuatan seseorang yang memberi arah dan makna pada semua aktivitas yang ditakukan.

B. Keterampilan berfikir siswa yang harus dikembangkan

Keterampilan berfikir atau motivasi akademik siswa yang harus dikembangkan untuk menghadapi era globalisasi adalah sebagai berikut:

1. Creative (kreativitas). Siswa yang kreatif tidak mudah untuk dipengaruhi oleh orang lain. Dengan ide-ide kreatifnya ia akan menciptakan kreasi-kreasi baru yang orisinil (bukan tiruan).

2. Inovative (Inovasi/pembaharuan). Mempunyai inovasi merupakan salah satu prasyarat dalam memasuki era globalisasi. Dengan adanya inovasi maka seorang siswa akan selalu berorientasi pada perubahan .

3. Critical (kritis) . Sikap kritis akan membuat seseorang peka terhadap situasi. Sehingga dengan kecersdasan dan inovasinya ia akan tertantang untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

4. Analitical (analisa). Siswa yang siap memasuki era persaingan global adalah siswa yang mampu menganalisis semua fenomena yang ada disekelilingnya.

5. Hipothesised (Jawaban sementara). Jawaban sementara yang dimiliki siswa dalam menghadapai perubahanmutlak diperlukan, agar ia tidak menjadi generasi yang tidak jelas dalam arah hidupnya.

Sumber :

– Kompilasi dari beberapa makalah Seminar Nasional Pendidikan di Era Otonomi Pendidikan dan Era Global

Penulis :

Drs. Matrisoni

– Mantan Kepala SMA Taruna Andigha Bogor

– Alumni Intitute International Des Droits De L’Homme Strasbourg Perancis

– Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Pemerintahan Universitas Paramita – Konsentrasi Otonomi Pendidikan.

– Staf Ahli Litbang dan Staf Pengajar SMA Dwiwarna Boarding School Bogor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s