MARHABAN YA RAMADHAN

Bulan Ramadhan segera menghampiri kita. Inilah saat-saat yang paling indah bagi yang mendambakan kesejatian hidup. Inilah saat-saat yang paling menggiurkan bagi yang sadar bahwa hidup senantiasa berperang melawan gejolak hawa nafsu. Inilah saat-saat ketika tiap detik kehidupan harus diisi dengan amal saleh dan kebajikan. Inilah saat-saat ketika tiap tarikan nafas dan getaran lidah mulai dihiasi dengan dzikir dan taubat. Inilah saat-saat ketika seluruh aktivitas kehidupan difokuskan untuk ibadah.

Bulan Ramadhan adalah bulan ketika seluruh motivasi dan energi ibadah kaum muslimin meningkat. Semangat beribadah memuncak. Bukan saja amalan wajib, yang sunnat pun dikerjakan. Bukan saja melakukan yang haram, yang halal pun, bila tidak pada waktunya, ditinggalkan.

Untuk sebagian orang, ada yang menjadikan bulan Ramadhan ini sebagai topeng. Ia kenakan topeng kesalehan untuk menutupi ”wajah” aslinya dan menyembunyikan identitas dirinya. Banyak orang yang mendadak jadi orang yang nampak ”saleh”. Entah karena ketulusan atau hanya sebatas penghormatan pada bulan suci itu. Mereka berpenampilan muslim. Mereka nyanyikan lagu-lagu religius, mereka kenakan busana-busana muslim/muslimah untuk membungkus tubuhnya, mereka ucapkan ayat-ayat suci, mereka unjukkan simbol-simbol keislaman. Tapi pada acara-acara dan kesempatan berbeda, padahal masih di bulan ramadhan, mereka pertontonkan aurat, keseronokan, keglamouran dan sensualitas. Ketika ramadhan usai dan meninggalkannya, mereka pun membuka kembali topeng yang menyembunyikan identititasnya itu dan kembali memperlihatkan wajah aslinya serta tenggelam di alam dan habitatnya.

Allah Yang Maha Kasih dan Maha Pemurah, senantiasa memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk kembali ke jalan-Nya. Allah selalu membuka pintu ampunan selebar-lebarnya. Karena Allah Maha Tahu, betapa kita selama ini berada dalam gelimang dosa dan kesalahan. Selama sebelas bulan berlalu, kita terlena diperdaya oleh kekuatan hawa nafsu. Kita tak pernah menampakkan kesalehan dengan sebenarnya dan dengan penuh keikhlasan. Bahkan selama sebelas bulan kita lacurkan diri ini ke jurang kenistaan. Maka dijadikan-Nyalah satu bulan lebih diistimewakan dibanding sebelas bulan lainnya. Bulan introspeksi, penyucian ruhani dan ”mandi besar” dari dosa dan kesalahan.

Untuk sebagian yang lain, Bulan Ramadhan menjadi saat-saat yang paling dinantikan untuk memoles dan menghiasi wajahnya dengan ketakwaan dan ketaatan, terlebih ketika mereka menyadari selama sebelas bulan yang telah lewat, hidup dalam kubangan lumpur dosa dan kesalahan. Maka dijadikannya Ramadhan ini untuk membersihkan diri dan mematrikan ketaatan dan ketaqwaan kepada-Nya.

Bulan Ramadhan adalah bulan taat dan taqarub kepada Allah. Malamnya bersambung siang. Seluruh siangnya adalah puasa. Seluruh malamnya adalah qiyamullail, tadarus dan dzikir. Ia adalah bulan untuk mencampakkan diri dari gelegak nafsu syahwat dan penyakit jiwa.

Ramadhan datang untuk membersihkan penyakit-penyakit yang bersarang dalam jiwa. Mendidik jiwa supaya tidak terperangkap pada pintu-pintu jebakan di depannya, seperti ghibah, dengki, memata-matai dan adu domba (namimah). Ramadhan juga melatih jiwa agar pintu-pintu jebakan itu tidak terbuka diluar bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah bulan Tarbiyah (syahruttarbiyah), bulan pelatihan dan pembentukan (takwin) serta penyucian dari segala bentuk kelalaian dan kesalahan yang disengaja ataupun tidak, selama sebelas bulan sebelumnya.

Oleh karena itu, kalau kita menyadari bahwa Ramadhan tahun lalu pernah kita sia-siakan, maka pada tahun ini, jangan sampai sedetik pun berlalu sia-sia tanpa dimanfaatkan untuk membina kepribadian kita. Agar dapat diraih insan muttaqin.

Puasa Mendewasakan Spiritual
Manusia diciptakan Allah memiliki dua dimensi. Dimensi luhur (al-janib al-‘ulwiy) dan dimensi rendah (al-janib Al-sufliy). Dimensi luhur bersifat transendental (suci) karena bersumber dari alam ruh dan menjadi eksistensi kefitrahan manusia. Sementara dimensi rendah adalah sifat-sifat hewani yang bersumber dari hawa nafsu dan sifat jasadiyah (fisik). Dimensi luhur senantiasa menarik manusia pada hal-hal yang bersifat spiritual, dan mendekatkan diri kita kepada Allah. Dimensi ini juga mendorong manusia untuk berbuat kebaikan, keadilan,cinta kasih dan kesucian. Dimensi rendah, menyeret manusia pada perbuatan buruk, kedhaliman, kedengkian dan segala sifat kerendahan dan kotor.

Pengaruh kedua tarikan terhadap manusia, akan senantiasa mewarnai perjalanan hidup manusia. Pertempuran dan persaingan memperebutkan posisinya dalam diri manusia antara kedua dimensi ini, menjadi peperangan abadi selama kehidupan di dunia ini . Bila dimensi luhur yang menang, maka kita menjadi ahsanu takwim. Bila dimensi rendah yang berjaya, maka terhempaslah kita pada derajat asfala safilin. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada kita untuk senantiasa meminta pertolongan kepada-Nya, agar dimensi luhur itu yang lebih dominan menguasai diri kita. ”Hai orang-orang yang beriman, minta tolonglah (kepada Allah) dengan kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Baqarah : 153)

Letak kesempurnaan manusia bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain terdapat pada ruh-nya. Hakikat kemanusiaan dan kualitas kepribadian seseorang berada dalam ruhnya. Bila pengaruh ruh manusia berfungsi secara maksimal, maka derajat kesempurnaannya (ahsanu takwim) dapat tercapai.

Ruh manusia memiliki kebutuhan sebagaimana jasadnya. Abraham Maslow, membuat piramida kebutuhan manusia. Semakin tinggi posisi piramidanya, semakin abstrak pula kebutuhannya. Pada tingkatan yang paling bawah manusia hanya memenuhi kebutuhan makan, minum atau kebutuhan biologis saja. Bila kebutuhan biologis itu sudah terpenuhi, kebutuhannya akan naik pada tingkat selanjutnya. Kebutuhan diatasnya adalah kebutuhan akan kasih sayang, ketentraman dan rasa aman. Lebih atas lagi adalah kebutuhan akan perhatian dan pengakuan. Lebih tinggi dari itu adalah kebutuhan akan self actualization atau aktualisasi diri. Tingkatan tertinggi inilah merupakan pemenuhan proses penyempurnaan spiritual. Dalam Islam dinamakan dengan Al-Takâmul Al-Rûhâni. Itulah tingkat yang paling tinggi dalam kebutuhan manusia.

Dari uraian di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa semakin dewasa seseorang, maka semakin abstrak kebutuhannya. Semakin dewasa seseorang, maka ia senantiasa berusaha untuk memenuhi kebutuhan ruhaniahnya bukan kebutuhan jasmaniahnya. Ciri kedewasaan seseorang adalah sejauhmana ia sibuk untuk memenuhi tuntutan kebutuhan ruhaniah dan tidak disibukkan lagi oleh tuntutan kebutuhan jasmaniahnya.

Di bulan Ramadhan, melalui ibadah puasa, sesungguhnya kita sedang berusaha untuk mencapai taraf pendewasaan spiritual dengan pemenuhan kebutuhan ruhaniah kita. Kita tinggalkan makan, minum dan kebutuhan biologis agar kebutuhan ruhaniah kita tercapai. Bahkan pada tingkatan yang lebih tinggi, puasa tidak hanya sekedar meninggalkan makan, minum dan kebutuhan biologis, namun juga segala bentuk keinginan-keinginan duniawi yang dapat melalaikan dan menjauhkan manusia dari mengingat Allah. Menurut Imam Ghazali, bila puasa kita hanya mampu menahan diri dari lapar, dahaga dan kebutuhan seksual maka puasa tersebut digolongkan puasanya orang awam atau puasanya anak-anak. puasa orang dewasa adalah ketika sanggup menahan diri dari gejolak hawa nafsu bahkan segala keinginan duniawi, semata-mata untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan, sehingga para ulama mendefinisikan puasa dengan al-imsak ’an al-mufthirat wa al-ma’hudat bi qashdi qurbat (menahan diri dari yang membatalkan dan merusak puasa dengan tujuan mendekatkan diri kepada Tuhan. Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa tidak bisa meninggalkan kata-kata bohong dan mengamalkannya, maka tiada perlu bagi Allah (untuk membalas pahalanya) karena ia meninggalkan makan minumnya”. (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

Dalam agama-agama lain (selain Islam), ditemukan pula ajaran-ajaran puasa dalam berbagai bentuk dan cara. Namun, hampir memiliki tujuan yang sama adalah untuk memenuhi kebutuhan ruhaniah. Karena setiap agama merupakan wadah/alat untuk memenuhi kebutuhan ruhaniah.

Setiap bentuk ibadah kepada Allah adalah jalan untuk menuju kehidupan ruhaniah yang menjadi hakekat kehidupan yang sebenarnya. Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepadamu (lima yuhyikum), dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan (QS. Al-Anfal : 24). Setiap kita melakukan ibadah, maka sesungguhnya kita sedang menuju tahap penghidupan ruhani. Al-Maraghi menafsirkan kata lima yuhyikum pada ayat diatas dengan Al-Hayat Al-Rawhiyyat (Kehidupan Jiwa). Ia mengatakan, Kehidupan yang lebih baik (Al-Hayat Al-Ruhiyat) dalam arti psikis (kejiwaan) itu sebagai akibat dari dapat memahami segala ketentuan (sunnah) Allah yang berlaku di alam-Nya, memahami hikmah dan keutamaan yang dapat meninggikan jiwa manusia ke harkat derajat yang sempurna, sehingga karenanya dia mendapat tempat yang dekat di sisi Tuhannya, serta mendapat keridlaan-Nya di akhirat kelak. Sementara itu, Sayyid Quthub dalam tafsirnya mengatakan, ”Sesungguhnya ajakan itu merupakan satu ajakan kepada kehidupan yang lebih baik dalam segala segi dan aspeknya, kepada kehidupan yang lebih baik dengar arti yang sebenar-benarnya”.

Setiap kita melaksanakan ibadah puasa, maka kita sedang membina jiwa dan ruhani kita agar mencapai tahap ”kehidupan ” yang sebenarnya. Kehidupan yang lebih baik dari segi makna dan hakekatnya. Atau dengan kata lain, yakni derajat Al-Muttaqin (orang-orang yang bertaqwa).

Kehidupan ruhani itu adalah kehidupan yang sarat dengan kebahagiaan dan kegembiraan. Bagi orang yang mampu menunaikan puasa dengan semestinya, maka Allah menyediakan dua kebahagiaan, sebagaimana Rasulullah mengatakan, ”Bagi orang yang puasa akan disediakan dua kegembiraan, yaitu gembira ketika ia berbuka dari puasanya dan gembira ketika ia bertemu dengan Tuhannya dengan membawa pahala puasanya”. (HR. Mutafaqun ’Alaih).

Tidak diragukan lagi, bahwa bagi orang yang menunaikan ibadah puasa, ia akan menuai kegembiraan disaat berbuka puasa, yakni disaat matahari terbenam atau saat tiba di penghujung bulan Ramadhan, yakni saat menjelang Idul Fitri.

Sedangkan kegembiraan lain adalah tatkala bertemu dengan Sang Kekasih, Allah Swt. Pertemuan yang paling indah dan senantiasa didambakan oleh setiap mukmin. Kegembiraan bertemu dengan Tuhannya, melebihi kegembiraan apapun, termasuk kegembiraan dimasukkan dalam surga-Nya. Ia bertemu Tuhannya dengan menghitung nilai puasanya, menanti pahala yang dijanjikan-Nya, pahala yang agung dan mulia. Ia juga menanti ampunan atas dosa-dosanya. Itu semua hanya akan dirasakan dan diperoleh oleh orang-orang yang berpuasa dengan keimanan dan perhitungan. Rasulullah bersabda,”Barangsiapa berpuasa dibulan Ramadhan dengan keimanan dan perhitungan, akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (H.R. Muttafaq Alaih).

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUAS

MARHABAN YA RAMADHAN

Lampiran :

Presentasi Nasehat Rasulullah Menyambut Ramadhan ( ppt ) Silahkan didownload

nasihat-rasulullah-menyambut-bulan-ramadhan.ppt

Postingan dari seorang Sahabat: Drs. Usep Supriatna

One thought on “MARHABAN YA RAMADHAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s